
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum TK
Taman Kanak-kanak (TK) adalah salah satu bentuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia 4 sampai 6 tahun. Tujuan pendidikan di TK adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik fisik maupun psikis yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, disiplin, sosial emosional, kemandirian dan tanggungjawab, kognitif, bahasa, fisik/motorik dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar melalui bimbingan yang memadai.
Tujuan bimbingan bagi anak TK adalah sebagai berikut :a. Membantu anak lebih mengenal dirinya, kemampuannya, sifatnya, kebiasaannya dan kesenangannya,
b. Membantu anak mengembangkan potensi yang dimilikinya ke arah kemandirian,
c. Membantu anak untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya,
d. Membantu menyiapkan perkembangan mental dan sosial anak untuk masuk ke lembaga pendidikan selanjutnya,e. Membantu orang tua agar mengerti, memahami dan menerima anak sebagai individu,
f. Membantu orang tua dalam mengatasi gangguan emosi anak yang ada hubungannya dengan situasi keluarga di rumah
g. Memberikan informasi pada orangtua untuk memecahkan masalh kesehatan anak.
2. Gambaran TK Bahrul ‘Ulum
a. Keadaan geografis
Taman Kanak-kanak (TK) Bahrul ‘Ulum didirikan pada tanggal 21 September 1988 oleh Yayasan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Nagasari dengan Akta Notaris Nomor 52 tanggal 24 Juli 1978. TK Bahrul ‘Ulum adalah salah satu TK dari 6 TK yang berada di Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya, terletak di komplek Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Nagasari.
Batas-batas wilayah TK Bahrul ‘Ulum sebagai berikut :1) Sebelah Utara : rumah penduduk
2) Sebelah Selatan : SMK Bahrul ‘Ulum
3) Sebelah Barat : Menjid Jamie Bahrul ‘Ulum
4) Sebelah Timur : SMPI Bahrul ‘Ulum
b. Keadaan demografis
Taman Kanak-kanak (TK) Bahrul ‘Ulum Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya terdiri dari 54 orang siswa dengan jumlah guru 5 orang. Lebih jelasnya jumlah murid berdasarkan jenis kelamin dan jumlah guru dapat lihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Keadaan Peserta Didik
No Kelompok Jumlah Rombongan Belajar Jumlah Siswa Jumlah
L P
1 A 1 12 13 25
2 B 1 14 15 29
Jumlah 2 26 28 54
Tabel 2. Keadaan Guru
No Tingkat Pendidikan Status Guru Jenis Kelamin Jumlah
PNS GBS GTT L P
1 SPG TK - - - - - -
2 D II PGTK 1 - 3 - 4 4
3 Sarjana - - 1 - 1 1
4 SLTA - - - - - -
Jumlah 1 - 4 - 5 5
3. Deskripsi Subyek Penelitian
Penelitian dilakukan di TK Bahrul ‘Ulum Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya. TK Bahrul ‘Ulum merupakan sekolah yang belum pernah diadakan penyuluhan tentang pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dari Politeknik Kesehatan Jurusan Kesehatan Gigi Tasikmalaya. Penelitian ini di tujukan kepada anak TK kelas 1 B dengan jumlah 29 orang dan sampel yang di ambil adalah seluruh siswa kelas 1 B, karena anak kelas 1 B sudah memiliki gigi campuran sebagai gigi indeks PHP-M, jenis kelamin laki-laki 14 orang dan perempuan sebanyak 15 orang.
a. Distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan jenis kelamin
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persen (%)
1 Laki-laki 14 48,3
2 Perempuan 15 51,7
Jumlah 29 100
Sumber: Hasil uji frekuensi dengan SPSS
Gambar 1. Frekuensi Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan tabel dan gambar di atas dapat dilihat sampel yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 14 orang (48,3%) dan perempuan sebanyak 15 orang (51,7%).
b. Distribusi frekuensi sampel penelitian berdasarkan umurTabel 4. Distribusi Frekuensi Sampel Penelitian Berdasarkan Umur
No Umur Jumlah (Orang) %
1. 6 tahun 26 89,7
2. 7 tahun 3 10,3
Jumlah 29 100
Sumber: Hasil uji frekuensi dengen SPSS
Gambar 2. Frekuensi Sampel Penelitian Berdasarkan Umur
Berdasarkan tabel dan gambar di atas bahwa siswa yang berumur 6 tahun sebanyak 26 orang (89,7%) dan yang berusia 7 tahun sebanyak 3 orang (10,3%).
c. Distribusi frekuensi rata-rata indeks PHP-M sebelum diberikan perlakuanTabel 5. Distribusi Frekuensi Sampel Penelitian Berdasarkan Rata-rata Indeks PHP-M Sebelum Diberikan Perlakuan
Variabel Mean SD Min-Max 95% CI N
Indeks PHP-M sebelum diberikan perlakuan 35,62 7,26 23-48 32,85-38,38 29
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSS
Berdasarkan tabel 5 diperoleh nilai mean indeks PHP-M sebelum diberikan perlakuan sebesar 35,62 (kriteria kurang baik), sedangkan standar deviasi 7,26 min-max 23-48 dan nilai 95% CI 32,85-38,38 dengan jumlah responden 29 orang.
d. Distribusi frekuensi rata-rata indeks PHP-M sesudah diberikan perlakuan
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Sampel Penelitian Berdasarkan Rata-rata Indeks PHP-M Sesudah Diberikan Perlakuan
Variabel Mean SD Min-Max 95% CI N
Indeks PHP-M sesudah diberikan perlakuan 19,58 4,01 14-29 18,05-21,11 29
Sumber: Hasil Uji Explore dengan SPSSBerdasarkan tabel 6 diperoleh nilai mean mean indeks PHP-M sesudah diberikan perlakuan sebesar 19,58 (kriteria baik), standar deviasi 4,01 min-max 14-29 dan nilai 95% CI 18,05-21,11 dengan jumlah responden 29 orang. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini:
e. Distribusi frekuensi rata-rata indeks PHP-M sebelum dan sesudah diberikan perlakuan
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Sampel Penelitian Berdasarkan Rata-rata Indeks PHP-M Sebelum Diberikan PerlakuanVariabel Mean SD Min-Max 95% CI N
Indeks PHP-M sebelum diberikan perlakuan 35,62 7,26 23-48 32,85-38,38 29
Indeks PHP-M sesudah diberikan perlakuan 19,58 4,01 14-29 18,05-21,11 29
Gambar 3. Rata-rata Indeks PHP-M Sebelum dan Sesudah Diberikan Perlakuan pada Anak Prasekolah Kelas I B TK Bahrul ’Ulum Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Tabel dan gambar di atas menunjukkan bahwa adanya perubahan tingkat kebersihan gigi dan mulut anak prasekolah kelas 1B TK Bahrul ’Ulum Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya, diperoleh nilai rata-rata indeks PHP-M sebelum diberikan perlakuan sebesar 35,62 (kriteria kurang baik), sedangkan indeks PHP-M sesudah diberikan perlakuan sebesar 19,58 (kriteria baik).
f. Hasil analisis Paired sample test dengan menggunakan SPSS Versi 12Pengaruh pendidikan kesehatan gigi dengan metode simulasi terhadap indeks PHP-M anak prasekolah kelas I B TK Bahrul ’Ulum Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya yaitu sebagai berikut:
Tabel 8. Hasil Analisis Paired Samples Test Nilai (Pretest and Posttes) Indeks PHP-M Anak Prasekolah Kelas 1B TK Bahrul’ulum Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009
Pendidikan Kesehatan Gigi dengan Metode Simulasi Terhadap
Indeks PHP-M Rerata SD Uji statistik
t p
- Pretest
- Posttes
35,62
19,58
7,26250
4,01352
22.061
,000
Sumber: Hasil uji t-test dengan SPSS
Tabel 8 menunjukkan nilai rata-rata dari indeks PHP-M sebelum diberikan perlakuan yaitu sebesar 35,62 (kriteria kurang baik) dan indeks PHP-M sesudah diberikan perlakuan sebesar 19,58 (kriteria baik). Sedangkan nilai p-value dari uji-t adalah 0,000 yang berarti bahwa probabilitas kurang dari 0,05. Hal ini berarti pendidikan kesehatan gigi dengan metode simulasi sangat efektif untuk menurunkan indeks PHP-M anak prasekolah kelas 1B TK Bahrul ’Ulum Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya.
B. Pembahasan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di TK Bahrul ’Ulum Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya selama 1 bulan (5 kali kunjungan) yang dimulai pada tanggal 12 November 2009 sampai dengan tanggal 12 Desember 2009, didapat hasil penelitian berdasarkan tabel 3 dan gambar 1 bahwa siswa yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 14 orang dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 15 orang.
Tabel 5 memperlihatkan bahwa Indeks PHP-M sebelum dilakukan pendidikan kesehatan gigi dengan metode simulasi diperoleh nilai rata-rata indeks PHP-M sebesar 35,62 termasuk kriteria kurang baik.Tabel 6 memperlihatkan bahwa adanya perubahan Indeks PHP-M sesudah dilakukan pendidikan kesehatan gigi dengan metode simulasi, diperoleh nilai rata-rata indeks PHP-M sebesar 19,58 termasuk kriteria baik.
Gambar 2 memperlihatkan hasil perbandingan dari tabel 5 dan 6 mengenai Indeks PHP-M sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan gigi dengan metode simulasi, memperlihatkan adanya perubahan tingkat kebersihan gigi dan mulut anak prasekolah kelas 1B TK Bahrul ’Ulum Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan gigi dengan metode simulasi.
Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan SPSS Versi 12 menunjukkan hasil analisis Paired Sample Test bahwa nilai rata-rata hasil pengukuran nilai Indeks PHP-M dari pretest ke posttes sangat signifikan, yaitu pretest sebesar 35,62 (kriteria kurang baik) dan posttes sebesar 19,58 (kriteria baik) dengan nilai p = 0,000 berarti penelitian ini sangat bemakna dalam penurunan indeks PHP-M dari sebelum ke sesudah diberikan pendidikan kesehatan gigi dengan metode simulasi.
Pendidikan itu pada hakekatnya merupakan bantuan yang diberikan seseorang kepada orang lain yang sedang berusaha mencapai kedewasaannya dalam arti normatif dengan menggunakan cara berupa alat, bahasa dan media. Syaiful Sagala (2006) menyatakan bahwa pendidikan dapat dimaknai sebagai proses mengubah tingkah laku anak didik agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada.
Pendidikan kesehatan adalah suatu proses belajar yang timbul karena adanya kebutuhan akan kesehatan, dijalankan dengan pengetahuan mengenai kesehatan dan yang menimbulkan aktivitas perorangan dan masyarakat dengan tujuan menghasilkan kesehatan yang baik (Herijulianti, dkk., 2002).
Simulasi adalah metode penyuluhan yang dalam pelaksanaannya penyuluh dapat melakukan suatu kegiatan belajar mengajar yang berorientasi pada penghayatan keterampilan aktualisasi dan praktek dalam situasi dapat bertingkah laku seperti orang lain, dengan tujuan agar orang tersebut dapat mempelajari lebih mendalam tentang bagaimana orang itu merasa dan berbuat sesuatu (Herijulianti, dkk., 2002).
Kesehatan gigi dan mulut dapat diukur dengan metode PHP-M (Personal Hygiene Performance Modified) dari Martens dan Meskin (1972, cit Priyono, 2001). PHP-M merupakan alat ukur yang dianggap paling teliti dalam melaksanakan pengukuran kebersihan gigi dan mulut. Indeks PHP-M menunjukkan semakin tinggi skor plak yang diperoleh akan semakin buruk keadaan kebersihan gigi dan mulut seseorang. Kesehatan dan kebersihan gigi ditentukan oleh bagaimana seseorang merawat dan memelihara keadaan gigi dan mulut. Hasil penelitian menunjukkan hasil pengukuran dengan indeks PHP-M anak prasekolah kelas 1B TK Bahrul ‘Ulum dengan menggunakan metode simulasi terhadap kesehatan gigi dan mulut didapat nilai rata-rata indeks PHP-M sebelum dilakukan perlakuan sebesar 35,62 termasuk kriteria kurang baik dan rata-rata indeks PHP-M sesudah dilakukan perlakuan sebesar 19,58 termasuk kriteria baik. Hal ini dapat dilihat bahwa pendidikan kesehatan gigi pada anak prasekolah kelas 1B TK Bahrul ’Ulum Kecamatan Sukarame Kabupaten Tasikmalaya dengan metode simulasi sangat baik digunakan. Pernyataan ini didukung oleh pendapat Roestiyah (2008) yang menyatakan bahwa teknik simulasi baik sekali digunakan karena: a) menyenangkan siswa, b) memungkinkan eksperimen berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya, c) mengurangi hal-hal yang verbalistik atau abstrak, d) tidak memerlukan pengarahan yang pelik dan mendalam, e) menimbulkan semacam interaksi antar siswa, yang memberi kemungkinan timbulnya keutuhan dan kegotong-royongan serta kekeluargaan yang sehat, f) menimbulkan respon yang positif dari siswa yang lamban/kurang cakap, g) menumbuhkan cara berpikir yang kritis.
Menurut pendapat Anto (2009) bahwa pendidikan kesehatan gigi termasuk latihan menggosok gigi harus diberikan dan ditanamkan sejak usia dini agar anak terbiasa memelihara kebersihan mulut dan giginya, karena pada anak usia prasekolah merupakan salah satu kelompok rentan terhadap penyakit gigi dan mulut disebabkan masih mempunyai perilaku atau kebiasaan diri yang kurang menunjang terhadap kesehatan gigi dan mulut. Adapun faktor yang menyebabkan penurunan indeks PHP-M adalah karena murid mendapat ilmu baru tentang kesehatan gigi dan mulut, khususnya tentang kesehatan gigi dan mulut dan minat anak untuk mengetahui hal yang dianggap baru sangat besar sehingga anak lebih konsentrasi dan lebih memperhatikan pendidikan kesehatan gigi dan mulut yang diberikan.
Metode simulasi merupakan salah satu metode yang efektif dalam proses pembelajaran di Taman Kanak-kanak yang dilakukan dengan cara melibatkan siswa untuk berperan aktif yaitu dengan berpura-pura atau seolah-olah menirukan proses yang sebenarnya terjadi setelah teori diberikan, misalnya menggosok gigi. Sesuai dengan pendapat Roestiyah (2008) menyatakan bahwa simulasi adalah tingkah laku seseorang untuk berlaku seperti orang yang dimaksudkan, dengan tujuan agar orang itu dapat mempelajari lebih mendalam tentang bagaimana orang itu merasa dan berbuat sesuatu. Jadi siswa itu berlatih memegang peranan sebagai orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar